Sunday, August 26, 2007

Bahasa Madura Terancam

Bahasa Madura terancam miskin penutur. Itu karena penanaman dan pendidikan berbahasa daerah minim. Selain itu, penutur bahasa daerah digerus bahasa asing, termasuk bahasa nasional.

Menurut pengamatan Ketua YPM (Yayasan Pakem Maddhu) Pamekasan Kutwa Fath, penutur bahasa daerah mulai minim tidak saja dari kalangan remaja dan anak-anak. Sebagian orangtua juga melupakan bahasa daerah dalam komunikasi di tengah keluarga. "Kecuali di pelosok, saya menemukan orangtua bertutur bahasa daerah kromo dengan anaknya," kata Kutwa kemarin.

Di kota, sambungnya, sebagian orangtua bertutur dengan nonbahasa daerah. Bahkan mengunakan bahasa asing. Dia menilai, orangtua wajar bila berkomunikasi dengan bahasa lain kepada anaknya. Sebab, mereka ingin membudayakan bahasa Indoensia, Inggris, atau Arab. Tapi, Kutwa mengingatkan pentingnya orangtua menanamkan bahasa daerah kepada anaknya. "Bahasa Madura itu kan bahasa ibu bagi orang Madura," terangnya.

Hal sama disampaikan dosen Universitas Madura (Unira), Ahmad Zaini. Pria yang aktif di Balai Bahasa Jatim ini tidak menampik jika Bahasa Madura mulai aus. Dia menduga, Bahasa Madura tidak hanya dipinggirkan sebagian warga Madura sendiri. Orang Madura perantauan ikut mengikisnya. Baik pada saat berada di luar daerah maupun saat pulang ke Madura. Dia mencontohkan, sebagian warga perantauan Madura di Jakarta saat pulang bertutur dengan dialek dan Bahasa Jakarta.

Dia meminta semua pihak agar memperhatikan kelestarian Bahasa Madura. Itu bisa dimulai dari tingkat satuan terkecil di rumah tangga. Apalagi, remaja sekarang banyak yang tidak bisa berbahasa Madura kromo. "Kami hanya ingin yang peduli Bahasa Madura adalah orang Madura sendiri," tandasnya. (abe)

Sumber: Jawa Pos, Selasa, 07 Agt 2007

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home